Selasa, 14 Februari 2012

Valentine vs FPI





Kalau valentine ditandai dengan memberikan sesuatu (bunga, coklat, dsb) 
pada orang yang disayangi,
lalu apa bedanya dengan hari-hari lainnya?
Bukankah tiap hari kita rela menyumbangkan pikiran, waktu, 
tenaga, materi, dsb untuk orang yang disayangi?
Lalu buat apa ada valentine yang cuma satu hari ini?
Apa yang 'spesial'?


Saya punya usul.
Bagaimana jika justru satu hari langka ini
digunakan untuk membagikan sesuatu yang berharga itu 
pada orang yang paling dibenci.
Coba, misalnya, coklat berbentuk hati berbungkus pink 
berikanlah untuk musuh paling memuakkan.
Bukankah itu hal sulit yang tak bisa dilakukan tiap hari?
Tapi bukankah itu bisa dan mungkin dilakukan pada hari yang bertabur cinta 
serta warna-warni pink yang menyelimuti dunia pada hari ini?


Jadi tak ada lagi yang tak bahagia di valentine ini.
Bahagia valentine tak lagi dimonopoli pasangan-pasangan serasi
seolah cuma merekalah yang wajar berbagi di hari kasih sayang.
Semua tetap bisa berbagi.
Termasuk yang setia untuk sendirian..




(Mohon ingat, saya cuma usul. Ini saya sendiri tak rela berbagi buat musuh. 

Tapi saya bagikan saja ide ini karena pasti teman-teman lebih bisa. 
Bener, saya tak rela...)


Kamis, 02 Februari 2012

Happy Holy-Day

 ...

Happy Galungan..
Happy Kuningan..
Happy Holy-Day...

Have a good-great day....





(Front Line, BDS Bali Camp, January 31th - February 1st-2nd 2012)

................



Kamis, 05 Januari 2012

BDS Bali - Tutup Tahun - Buka Tahun



BDS Bali, apel siaga..


I
I


Tutup Tahun






Dua Minggu berikutnya.... 

Minggu, 25 Desember 2011

Jumat, 09 Desember 2011

Apakah Anda Bangga Bangsa Ini Menempati Urutan Atas Pengguna Jasa Komunikasi Maya?


Kliping
Jumat 10:00 pagi, 09 Desember 2011. Baru pulang setelah deadline dan sempat beli koran Kompas. Lihat TV dan ada JK di KompasTV. JK untuk 'Jalan Keluar' sekaligus 'Jusuf Kalla', si pemandu acara. Mereka bahas soal potensi pertanian. Isinya memilukan. Impor, impor, impor. Yang amat memalukan adalah kita impor beras, ikan, garam, dan buah. Memalukannya lagi bahwa kita impor pertanian-pertanian dari India dan Pakistan yang kering dibanding kita yang subur. Banyak sentilan dari JK yang khas itu. JK bilang kantor-kantor kita lebih besar dari kantor negara-negara tetangga. Lalu insinyur-insinyur pertanian kita lebih suka berkantor daripada bersawah. Jadinya kita serba impor. Semua tertawa. Benar itu (dan saya berpikir pasti bangga arsitek-arsitek arsitektur perkantoran kita).

Acara selesai lanjut ke koran di tempat tidur. Banyak sekali artikel bagus dari koran yang selalu tebal di hari Jumat. Lagi-lagi bertemu hal senada dengan bahasan berbeda. Ini tentang kebodohan. Juga tentang makna sebuah kebanggaan. Tema ini terus berputar-putar dalam tidur hingga ke meja studio siang harinya. Kita makin lama makin bodoh. Mungkin setidaknya makin dangkal. Dan orang dangkal senang membanggakan diri. Narsis? Siang itu saya kliping saja. Itulah kerjaan sisa siang di studio. Buat jaga-jaga perlu juga kliping digital. Banyak betul. Tapi demi tidak bodoh. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Kalau perlu, barusan buang angin pun diberitahukan ke seluruh dunia. Untuk bisa selalu update, orang terus-menerus memelototi Blackberry.
Apanya yang harus dibanggakan dengan itu semua?"


- Bre Redana -


Kompas, Jumat, 09 Desember 2011
------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------


HIPERKONSUMERISME, HIPERTEKS, HIPERMEDIA

Oleh: Bre Redana

Apakah Anda bangga bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta. 

Kamis, 08 Desember 2011

(Konflik) CAD Interior Menjenuhkan Di Akhir Tahun


Bagaimana Israel tahu kapan negara-negara tetangganya yang besar-besar itu akan menyerang? Gampang. Israel tinggal mengamati hiruk pikuk di rumah sakit-rumah sakit, toko-toko obat, gudang-gudang makanan, dan dapur-dapur umum negara-negara itu. Mossad (intelijen luar negeri Israel) tak perlu pakai teknologi canggih dan bermahal-mahal. Cukup laporan pandangan mata sederhana dari para pekerja biasa di tempat-tempat itu.

Kira-kira begitu juga yang terjadi di kantor-kantor di negeri ini. Termasuk juga di markas-markas dimana prajurit bersarang. Gampang jika awam ingin tahu kapan pertempuran-gila terakhir berlangsung atau bagaimana suasana batin-tugas di situ. Cukup amati hiruk pikuk benda-benda khas penghuninya. Apa mereka ada pada tempatnya atau tidak. Sebagaimana situasi serba darurat maka segala posisi umumnya serba kacau tak pada tempatnya. Gambaran sama untuk kota-kota kita sejauh ini. Serba darurat. Serba siap perang. Semua kacau. Benda-benda tidak pada tempatnya. Semua itu yang seperti kita tahu.

Cobalah berkunjung ke Markas BDS Bali penghujung akhir tahun ini. Mungkin banyak temuan menarik yang bisa menggambarkan dengan jelas suasana serba darurat siaga perang khas penghujung akhir tahun. Foto hal-hal sederhana berikut, yang diambil minggu pertama Desember 2011, mungkin cukup mewakili tanpa perlu tahu jadwal tugas yang mendekati kegilaan itu. Bahkan mungkin sudah melampaui. 

Sisa makanan
 
Login with Facebook